Seorang manusia, normalnya mempunyai impian dan cita-cita yang mampu mengarahkan ia, nanti ke alam masa depannya. Baik itu dalam bidang teknologi, lingkungan, makhluk hidup, seni, ataupun yang lainnya. Dari saat kecil manusia telah dibantu oleh manusia yang lain untuk memilih ingin ‘menjadi apa ia nanti’. Seperti seorang anak yang sejak kecil ditanya oleh orang tuanya, “Nak, ingin menjadi apa engkau saat dewasa nanti?”. Dan normalnya atau lebih tepatnya, anak Indonesia pada umumnya menjawab, “Ingin menjadi dokter, Bu”.
Ya, begitupula dengan diriku. Saat kecil, entah mengapa aku ingin menjadi dokter. Namun, keinginan itu tak berlangsung lama. Karena saat aku menjdapat pelajaran biologi di kelas 2 SMP, aku mencoba berpikir ulang, “apa iya aku mau menjadi seorang dokter?”. Dan akhirnya pertanyaan itu terjawab. Aku tidak ingin menjadi dokter.
Waktu terus berjalan sampai aku menginjak bangku SMA, tanpa ku sadari, aku hidup tanpa mempunyai cita-cita, ‘ingin menjadi apa aku nanti?’. Saat penerimaan mahasiswa, aku mencoba melakukan hal yang telah lama tak ku lakukan oleh diriku, yaitu berbicara dengan hatiku, berbicara dengan diriku sendiri. Aku tanyakan lagi apa yang paling membahagiakan dalam hidupku, pekerjaan apa yang dapat membuatku merasa senang. Akhirnya aku temukan, aku ingin menjadi seorang ahli meteorologi. Ya, aku tahu, pekerjaan itu bukanlah pekerjaan yang cukup menyenangkan untuk banyak orang. Memerhatikan cuaca, memrakirakan cuaca bak seorang peramal, but so what. Memang itu kecenderungan kesenanganku. Kemudian aku mantapkan hati untuk mengikuti tes masuk akademi pendidikan tersebut, namun Allah berkehendak lain. Aku tidak diterima.
Kecewa tiada guna, hadapi dengan senyum dan kuatkan kembali azam yang telah rapuh karena tergeras kekecewaan. Aku kembali bangkit dan mencoba lagi. Kali ini, ujian yang diikuti lebih dari 27.000 siswa dan non siswa se-Indonesia. Namun kali ini, tak aku masukan jurusan itu, aku ambil jurusan dari cita-citaku yang lain, yaitu guru. Dan, ya! Kali ini aku berhasil. Aku diterima di universitas negeri itu. Heran aku melihatnya, tak ada raut wajah ‘senang sekali’, saat membaca namaku di Harian ibukota. Entah mengapa, aku malah menjadi semakin bingung. Karena, beberapa hari sebelum pengumuman itu keluar, aku telah memantapkan hati untuk melanjutkan kuliah di jurusan teknik telekomunikasi. Walaupun aku tak tahu,’ akan menjadi apa aku nanti’.
Sungguh menyedihkan, kuliah di jurusan tenik telekomunikasi, tetapi aku tidak tahu ‘akan menjadi apa kau nanti’. Melanjutkan kuliah di jurusan yang tak kau ketahui akan berada dimana masa depanmu nanti. Kondisi saat itu sama saja seperti, kau berada diantara dua lorong gelap, yang satu kau sudah tau akan membawamu menuju cita-citamu dan lorong yang satu lagi adalah lorong yang asing bagimu, namun kau sudah terlanjur masuk kedalam lorong panjang dan gelap, mungkin kau tahu di akhir lorong itu akan ada cahaya terang yang akan menyambutmu, tapi cahaya itu tak mampu membuatmu tersenyum bahagia. Karena didalam otak dan pikiranmu, kau masih memikirkan lorong satunya lagi, lorong cita-citamu.
Sejauh kau menjalani hidup sebagai mahasiswa dalam kampus yang tak sesuai dan tak akan mengantarkan pada cita-citamu, aku yakin, kau tetap akan berusaha untuk mencapai cita-citamu itu. Bagaimana aku bisa berbicara seperti itu? Karena saat ini, aku merasakan dengan jelas hal itu ada pada diriku.
Kemauan seorang manusia tiada batas, semakin kuat kemauannya, semakin nyata cita-citanya. Dan itulah yang aku rasakan. Aku sangat tertarik pada dunia hewan, lingkungan alam sekitar, dan cuaca. Walaupun aku melanjutkan kuliah di tempat yang sangat kental teknologi informasinya, namun aku tetap berpegang pada cita-citaku. “Mungkin memang tak mungkin lagi kalau aku akan menjadi seorang ahli meteorology, tetapi aku masih mungkin untuk mejadi seorang pemerhati lingkungan dan penyayang hewan dengan ikut bergabung dalam Green Peace”, itulah suara hatiku yang yang terdalam.
Walau kau tutup rapat-rapat keinginanmu, bagaimanapun ia akan tetap menjadi cerminan pribadimu di usia dewasamu kelak. ^^